Menu

Mode Gelap
Warga Cirebon Mengeluh, Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki Mas Jun: Masa Depan Bangsa Ada di Tangan Generasi Muda yang Dekat dengan Tuhannya Hari Peduli Sampah Nasional: Legislator PKS Ajak Masyarakat Kurangi Penggunaan Sampah Plastik Anomali Ramadhan: Volume Sampah Naik, Mas Jun Ingatkan Fatwa MUI Soal Keharaman Buang Sampah Sembarangan Mas Jun Sambangi BBWS Ciliwung-Cisadane dan PAM Jaya, Matangkan Rumusan Raperda Air Permukaan Jabar Mas Jun Soroti Permasalahan Sampah dan Tanah Longsor dalam Agenda Pengawasan Pemerintah

Relevansi Konsep Pendidikan Islam Modern Syekh Muhammad Naquib al-Attas di Era Kontemporer

JAKARTA – Syekh Muhammad Naquib al-Attas adalah salah satu tokoh pemikir Islam kontemporer yang berpengaruh besar dalam mengembangkan konsep pendidikan Islam modern. Pemikirannya menjadi tonggak penting dalam menghadirkan sistem pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak, spiritualitas, dan adab manusia. Dalam salah satu karyanya The Concept of Education in Islam dan Islam and Secularism, Al-Attas dengan tegas mengkritik sistem pendidikan modern yang sekuler dan cenderung mengabaikan nilai-nilai ilahiah. Ia mengingatkan bahwa krisis utama dunia modern bukanlah semata-mata krisis teknologi atau ekonomi, melainkan krisis adab, hilangnya rasa hormat, etika, dan pengetahuan terhadap hakikat kebenaran.

Menurut Al-Attas, pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar proses transfer ilmu atau keterampilan, melainkan usaha sadar dan sistematis untuk menanamkan adab dalam diri manusia. Konsep adab yang diusungnya mencakup pengenalan dan pengakuan terhadap hak dan tempat segala sesuatu dalam tatanan ciptaan Allah SWT. Seorang manusia yang beradab adalah manusia yang mampu menempatkan dirinya, ilmunya, dan perbuatannya pada posisi yang benar sesuai dengan kehendak Ilahi. Dengan kata lain, pendidikan harus mengarahkan manusia untuk mengenal Tuhan, memahami dirinya, serta menunaikan tanggung jawabnya di muka bumi.

Salah satu konsep kunci dalam pemikiran pendidikan Al-Attas adalah ta’dib, yang diartikan sebagai pendidikan berbasis penanaman adab. Berbeda dengan ta‘lim (pengajaran) yang lebih berfokus pada aspek kognitif, dan tarbiyah (pembinaan) yang menekankan pertumbuhan jasmani dan rohani, ta’dib mencakup keduanya dengan menambahkan dimensi moral dan spiritual. Melalui ta’dib, pendidikan menjadi sarana untuk membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan beradab bukan hanya manusia yang pandai secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam bersikap dan bertindak.

Al-Attas juga mengkritik keras dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia yang banyak terjadi di lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, pemisahan ini bertentangan dengan hakikat ilmu dalam Islam yang bersumber dari satu sumber ilahi. Semua ilmu, selama tidak bertentangan dengan wahyu, merupakan bagian dari pengetahuan yang membawa manusia kepada kebenaran. Karena itu, pendidikan Islam seharusnya mengintegrasikan seluruh cabang ilmu dalam satu sistem yang utuh, di mana ilmu pengetahuan modern dapat diarahkan untuk memperkuat iman dan kemaslahatan umat.

Dalam konteks dunia modern yang dilanda materialisme, individualisme, dan hedonisme, pemikiran Al-Attas memberikan arah baru bagi reformasi pendidikan Islam. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja atau profesional yang kompeten, tetapi mencetak insan kamil atau manusia sempurna yang memiliki keseimbangan antara akal, hati, dan jiwa. Pendidikan yang baik harus menumbuhkan kesadaran spiritual, moralitas tinggi, dan tanggung jawab sosial agar manusia tidak menjadi hamba teknologi atau ekonomi, tetapi tetap menjadi khalifah yang beretika di bumi.

Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas juga memiliki implikasi besar terhadap sistem pendidikan nasional di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Di tengah arus globalisasi yang membawa nilai-nilai sekuler dan pragmatis, sistem pendidikan Islam sering kali terjebak dalam orientasi duniawi. Di sinilah relevansi pemikiran Al-Attas tampak nyata. ia menawarkan paradigma pendidikan yang menyeimbangkan antara ilmu dan iman, antara akal dan wahyu, antara modernitas dan spiritualitas. Pendidikan yang berlandaskan ta’dib diyakini dapat mengatasi krisis moral dan krisis makna yang melanda generasi muda saat ini.

Oleh: Tsamrotul Fuady.**

Tsamrotul Fuady, Mahasiswa UIN Cirebon. Foto: Istimewa.